Awal Penciptaan Bismillah (Bag.2)
June 02, 2018
2 Comments
![]() |
| Image Source : Shutterstock |
Artikel Sebelumnya : Awal Penciptaan Bismillah - Bagian 1
Bismillah diilhami oleh spiritualitas Islam secara langsung yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada Nabi, sedangkan wujudnya tentu saja dibentuk oleh karakteristik-karakteristik tertentu dari tempat penerima wahyu Al-Qur’an, yaitu :
“Qalbu” (hati)
Yang nilai-nilai positifnya diuniversalkan Islam. Bentuk wahyu Islam yang pertama ini (Bismillah) tidaklah mengurangi kebenaran, bahwa sumber religius dari “Bismillah” ini berasal dari kandungan batin dan dimensi spiritual Islam pula.
Hanya bagi orang yang yang terpanggil oleh-NYA yg mampu melihat
realitas-realitas tersebut ataupun orang yang telah dipilih untuk
memperoleh penglihatan “Al-Bashirah” (penglihatan batin) dan di jauhkan
dari sifat basyariyah (kemanusiaan) atas sesuatu yang tersembunyi
dibalik rahasia “Bismillah”, dan dikarenakan “Bismillah” ini merupakan
pula pesan dari ruang inti perbendaharaan yang gaib (khaza’in
al-ghoybi), maka siapapun yang menerima pesan kalimat suci ini didalam
hatinya ia seakan menikmati alunan nyanyian alam rahim yang membawa
jiwanya sebelum episode perjalanan duniawinya yang singkat.
Agama Islam tidak berdasarkan ketegangan dramatis antara langit dan bumi, atau pengorbanan diri dan penyelamatan melalui penyerahan diri kepada Al-haq semata , akan tetapi Agama Islam bertindak untuk mengembalikan kesadaran manusia, bahwa alam semesta adalah kalam ilahi (al-qur’an qodim) dan pelengkap ayat-ayat suci tertulis (al-furqon) yang diwahyukan dalam bahasa Arab.
Agama Islam tidak berdasarkan ketegangan dramatis antara langit dan bumi, atau pengorbanan diri dan penyelamatan melalui penyerahan diri kepada Al-haq semata , akan tetapi Agama Islam bertindak untuk mengembalikan kesadaran manusia, bahwa alam semesta adalah kalam ilahi (al-qur’an qodim) dan pelengkap ayat-ayat suci tertulis (al-furqon) yang diwahyukan dalam bahasa Arab.
Bismillah membantu manusia untuk menembus selubung eksistensi material,
sehingga memperoleh jalan masuk ke barakah yang terletak didalam firman
ilahi dan untuk mengenyam hakikat alam spiritual, karena Bismillah
itupun adalah suatu pengejawantahan dari kristalisasi realitas-realitas
spiritual (Al-Haqa’iq) yang terkandung didalam wahyu Islam pertama :
“Iqraa bismirabbikaal ladzii khalaq” : Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan (Q.S. : 96 : 1)
Kalimat “Bismillah” merupakan hasil dari pengejawantahan ke-Esaan pada
bidang keanekaragaman. Kalimat suci ini merefleksikan kandungan prinsip
keEsaan ilahi, kebergantungan seluruh keanekaragaman kepada Yang Esa,
kesementaraan dunia dan kualitas-kualitas positif dari eksistensi kosmos
atau makhluk, sebagaimana difirmankan oleh Allah Swt didalam Al-Qur’an:
“Yaa Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia” (Q.S. 3 : 191)
Allah SWT menurunkan kalimat suci “Bismillah” dalam wujud fisik (yang tersurat) pada sebuah kitab suci Al-Qur’anul Kariim yang secara langsung dapat dipahami oleh pikiran yang yang telah tidak bersandar pada selain alloh .
Karena kalimat suci “Bismillah” itu sendiri, memiliki realitas-realitas dasar dan perbuatan-perbuatan sebagai tangga bagi pendakian jiwa dari tingkat yang dapat dilihat dan di dengar menuju ke Yang Maha RUH (sirru al-rbubiyah) , yang juga merupakan keheningan diatas setiap bunyi. Wujud fisik (Bismillah) inipun didasarkan pada ilmu pengetahuan tentang dunia batin yang tidak hanya berkaitan dengan penampakan lahir semata, tetapi juga dengan realitas-realitas batin “Bismillah” itu sendiri (yang tersirat).
Karena adanya suatu kehadiran ilahi dalam teks Al-Qur’an , yakni
Bismillah (Basmallah), maka kalimat Bismillah inipun merupakan
pengejawantahan yang dapat dilihat dari firman ilahi itu, untuk membantu
kaum muslim menembus kedalam dan ditembusi oleh kehadiran ilahi yang
sesuai dengan kapasitas spiritual setiap orang Islam…
Oleh sebab itu, siapa pun yang meraih Tajalli asma, Af’aal, sifat, dan
tajalli dzat Allah dengan sirnanya tirai dunia & akhirat , maka ia
akan tawakkal. Sedangkan siapa yang meraih Tajalli-NYA dengan sirnanya
diri kehamba’an (asma, af’aal, sifat & dzat) maka terbukalah ia akan
Ridha dan Pasrah. Dan siapa yang meraih Tajallinya Dzat dengan
terbukanya tirai Sifat, ia akan fana dalam kesatuan. Maka ia pun akan
meraih Penyatuan Mutlak. Ia berbuat, tapi tidak berbuat. Ia membaca tapi
tidak membaca
“Bismillahirrahmaanirrahiim”.
Tauhidnya af’aal mendahului tauhidnya Sifat, dan ia berada di atas Tauhidnya Dzat. Dalam trilogi inilah Nabi saw, bermunajat dalam sujudnya,
“Tuhan, Aku berlindung dengan ampunanmu dari siksaMu, Aku berlindung dengan RidhaMu dari amarah dendamMu, Aku berlindung denganMu dari diriMu”.
Penjelmaan duniawi dari pola dasar ilahi, yang disebut didalam Al-Qur’an dengan penulisan pena dan tempat tinta, memiliki suatu pokok spiritual. Dapat dikatakan, bahwa Al-Qur’an merupakan suara dari firman Tuhan yang diembuskan ke hati Nabi dan kemudian kepada para sahabat dan generasi-generasi selanjutnya.
Sayyidina Ali Karamallahu Wadz’hahu mengatakan :
“Bahwa seluruh Al-Qur’an itu terkandung didalam surat Al-Fatihah”, sedangkan surat Al-Fatihah itu sendiri terkandung di dalam Bismillah (basmallah)…
“Bahwa seluruh Al-Qur’an itu terkandung didalam surat Al-Fatihah”, sedangkan surat Al-Fatihah itu sendiri terkandung di dalam Bismillah (basmallah)…
Tiga Alif yang tersembunyi yang merupakan pelengkap terhadap dua puluh
dua huruf ketika dipisah-pisah, merupakan perunjuk pada Alam Ilahi Yang
Haq, menurut pengertian Dzat. Sifat dan Af ‘aal. Yaitu tiga Alam ketika
dipisah-pisah, dan Satu Alam ketika dinilai dari hakikatnya.
Sementara tiga huruf yang tertulis menunjukkan adanya manifestasi
alam-alam tersebut pada tempat penampilannya yang bersifat agung dan
manusiawi.
Dan dalam rangka menutupi Alam Ilahi, ketika Rasulullah saw, ditanya
soal Alif yang melekat pada Baa’,
“dari mana hilangnya Alif itu?”Maka Rasulullah saw, menjawab,
“Dicuri oleh Syetan”.
Diharuskannya memanjangkan huruf Baa’nya Bismillah pada penulisan, sebagai ganti dari Alifnya, menunjukkan penyembunyian Ketuhanannya predikat Ketuhanan dalam gambaran Rahmat yang tersebar. Sedangkan penampakannya dalam potret manusia, tak akan bisa dikenal kecuali oleh ahlinya. Karenanya, dalam hadist disebutkan,
“Manusia diciptakan menurut gambaran Nya”
Dzat sendiri tersembunyikan oleh Sifat, dan Sifat tersembunyikan oleh
Af’aal. Af’aal tersembunyikan oleh jagad-jagad dan makhluk.
Disebutkan, bahwa Wujud ini muncul dari huruf Baa’ dari Basmalah. Karena
Baa’ tersebut mengiringi huruf Alif yang tersembunyi, yang sesungguhnya
adalah Dzat Allah. Disini ada indikasi terhadap akal pertama, yang
merupakan makhluk awal dari Ciptaan Allah, yang disebutkan melalui
firman-Nya,
“Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih Kucintai dan lebih Kumuliakan ketimbang dirimu, dan denganmu Aku memberi. denganmu Aku mengambil, denganmu Aku memberi pahala dan denganmu Aku menyiksa”. (Al-hadits).
Huruf-huruf yang terucapkan dalam Basmalah ada 18 huruf. Sedangkan yang tertera dalam tulisan berjumlah 19 huruf. Apabila kalimat-kalimat menjadi terpisah. maka jumlah huruf yang terpisah menjadi 22.
Delapan belas huruf mengisyaratkan adanya alam - alam yang
dikonotasikannya dengan jumlahnya. 18 ribu alam. Karena huruf Alif
merupakan hitungan sempurna yang memuat seluruh struktur jumlah. Alif
merupakan induk dari seluruh strata yang tidak lagi ada hitungan setelah
Alif.
Karena itu dimengerti sebagai induk dari segala induk alam yang disebut sebagai Alam Jabarut, Alam Malakut, Arasy, Kursi, Tujuh Langit, dan empat anasir, serta tiga kelahiran yang masing masing terpisah dalam bagian-bagian tersendiri.
Karena itu dimengerti sebagai induk dari segala induk alam yang disebut sebagai Alam Jabarut, Alam Malakut, Arasy, Kursi, Tujuh Langit, dan empat anasir, serta tiga kelahiran yang masing masing terpisah dalam bagian-bagian tersendiri.
Sedangkan makna sembilan belas, menunjukkan penyertaan Alam Kemanusiaan.
Walau pun masuk kategori alam hewani, namun alam insani itu menurut
konotasi kemuliaan dan universalitasnya atas seluruh alam dalam bingkai
wujud, toh ada alam lain yang memiliki ragam jenis yang prinsip. Ia
mempunyai bukti seperti posisi Jibril diantara para Malaikat.
Kalimat-kalimat merupakan hakikat-hakikat wujud dan kenyataannya.
Sebagaimana Isa as, disebut sebagai Kalimah dari Allah, sedangkan
keparipurnaan akhlak adalah predikat dan keistimewaannya. Predikat
itulah yang menjadi sumber perbuatan-perbuatan yang terkristal dalam
jagad kemanusiaan. Memahaminya sangat halus. Di sanalah para Nabi –
alaihimus salam – meletakkan huruf-huruf hijaiyah dengan menggunakan
tirai struktur wujud. Kenyataan ini bisa djtemukan dalam periode! Isa
as, periode Amirul Mukminin Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah, dan
sebagian masa sahabat, yang secara keseluruhan menunjukkan kenyataan
tersebut.


Bismillah ini bisa menjadi artikel pencerahan buat kita semua. Visit yg aku yah di tjenteng.blogspot.com
ReplyDeleteok trims udah mampir ya kang
Delete