Awal Penciptaan Bismillah (Bag.1)
June 02, 2018
Add Comment
![]() |
| Image Source : Shutterstock |
Sebutir debu serta kesekejapan hidup diubah melalui tradisi menjadi sebuah bintang di cakrawala, yang diberkahi Alloh dengan kemapanan dan merefleksikan keabadian Al-ilah.
Menurut doktrin tradisional, realitas batin alam semesta mengungkapkan diriNYA senDIRI melalui mata batin atau penglihatan intelektual “karena mata batin merupakan alat persepsi yang berdasarkan keselarasan, semesta raya”.
Dalam makrokosmos, keselarasan alam semesta terwujud pada taraf realitas
yang lebih tinggi dan menjadi suram serta semakin samar dalam tingkat
kosmos yang semakin rendah, karena jauh sebelum Tuhan menciptakan
manusia pertama, yakni Adam As (Abul Basyar) AL-Ilah yang Maha Agung
lebih dulu menciptakan suatu alam yang disebut ”ALAM LAHUT / alam tanpa
batas yang di huni oleh NUR MUHAMMAD” lalu di terus kan ke “Alam Jabbarut
& Malaakut”, dan dihuni oleh para malaikat-malaikat Allah yang tak
terbilang banyaknya.
Sebagian dari kelompok para Malaikat-Malaikat Allah tersebut adalah kelompok:
Dan masih banyak lagi golongan Malaikat-malaikat lainnya yang tidak dapat disebutkan disini.
- Malaikat Muqarrabin,
- Malaikat Kurubiyyin,
- Malaikat Kiraman Katibin,
- Malaikat Arsyi,
- Malaikat Hafadzah,
- Malaikat Aran Jabaniyyah,
- Malaikat Arsyi.
Dan masih banyak lagi golongan Malaikat-malaikat lainnya yang tidak dapat disebutkan disini.
Para malaikat-malaikat ini masing-masingnya mempunyai sayap, yang
sayapnya saja secara langsung melambangkan “Hakikat realitas penerbangan
dan pendakian melawan seluruh hal yang merendahkan derajat serta
menurunkan kekuatan atas dunia ini, yang akhirnya mengantar pada
kebebasan dari kungkungan duniawi yang serba terbatas”. Seperti tersebut
didalam Firman-Nya :
Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai urusan) yang mempunyai sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu. (Q.S. 35 : 1).
“Alam Jabbarut & Malakut”
Terdiri dari tujuh lembah pegunungan kosmik “Qaf” yang pada puncaknya terdapat singgasana Al-Ilah (Al-Arsy). Alloh yang menciptakan singgasana (Al-Arsy) dari jambrud hijau dan keempat tiangnya terbuat dari batu merah delima, yang dibawa oleh delapan Malaikatul Arsy, yang selalu bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya.
Ketujuh lembah “Qaf” itu sendiri, adalah :
- Lembah Thalab (pencarian),
- Lembah Isyq (cinta),
- Lembah Istighna (kepuasan),
- Lembah Hayrat (kekaguman),
- Lembah Faqr (kemiskinan),
- Lembah Ma’rifah (gnosis), dan
- Lembah Fana (lebur).
Dimasing-masing ketujuh lembah pegunungan kosmik “Qaf” ini terdapat
(tersimpan) tujuh buah huruf Al-Hijaiyyah, yakni huruf-huruf yang ada
pada kalimah suci “Bismillah”.
Pegunungan kosmik “Qaf” merupakan pesona spiritual dari keindahan dan ke-Agungan Tuhan, yang selalu menjadi pintu gerbang untuk masuk kedalam lautan rahasia Tuhan, yang dimulai dengan kerinduan kepada-Nya, dan bergerak secara perlahan menuju penyingkapan “hakikat Bismillah” yang suci dan mensucikan, dan akhirnya mencapai peleburan (Fana) dengan melintasi horizon esoterisme “Qaf” yang sangat luas dan tanpa batas.
Pegunungan kosmik “Qaf” merupakan pesona spiritual dari keindahan dan ke-Agungan Tuhan, yang selalu menjadi pintu gerbang untuk masuk kedalam lautan rahasia Tuhan, yang dimulai dengan kerinduan kepada-Nya, dan bergerak secara perlahan menuju penyingkapan “hakikat Bismillah” yang suci dan mensucikan, dan akhirnya mencapai peleburan (Fana) dengan melintasi horizon esoterisme “Qaf” yang sangat luas dan tanpa batas.
Qaf, demi Al-Qur’an yang sangat mulia (Q.S. : 50 : 1).
Ekspresi universal kehidupan “Alam Jabbarut & Malaakut” dan jalan
inisiatik, dimungkinkan oleh tingginya tingkatan spiritual (maqam) yang
sekaligus menjadi awal cikal bakal penciptaan langit dan bumi yang pada
waktu itu (di alam jabbarut malakut), langit masih berupa asap, asap
yang keluar dari ketujuh lembah “Qaf”, kemudian Allah satukan dan dari
asap tersebut dijadikannya tujuh lapis langit.
Seperti tersebut dalam firman-Nya:
Dan firman-Nya lagi :
Setelah tujuh lapis langit terbentuk, kemudian Allah Swt menciptakan tujuh lapis bumi yang diambil dari pegunungan kosmik “Qaf” pula.
Seperti tersebut dalam firman-Nya:
Yang menciptakan tujuh lapis langit (Q.S. : 67 : 3).
Dan firman-Nya lagi :
Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit yang kala itu masih berupa asap (Q.S. : 41 : 11).
Setelah tujuh lapis langit terbentuk, kemudian Allah Swt menciptakan tujuh lapis bumi yang diambil dari pegunungan kosmik “Qaf” pula.
Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi (Q.S. : 65 : 12)
Catatan :
Pengertian mengenai penciptaan langit dan bumi ini adalah “langit akhirat dan bumi akhirat”, karena setelah penciptaan langit dan bumi akhirat ini, Allah Swt menciptakan tujuh surga dan tujuh neraka, barulah langit dan bumi dunia Allah ciptakan dalam masa yang pada saat itu bumi masih dalam keadaan gelap gulita.
Seperti yang Allah Swt firmankan didalam Al-Qur’an :
Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan kami sedikitpun tidak ditimpa kelelahan (Q.S. : 50 : 38)
Al-ilah Yang Maha Esa menciptakan dunia setelah DIA (Allah) menciptakan surga dan neraka berikut wildan dan bidadari. Dunia saat itu masih dalam keadaan gelap gulita, dan setelah Nabi Adam As dan Siti Hawa terusir dari surga, kemudian turun ke dunia, barulah Allah Swt menciptakan cahaya yang menerangi dunia (matahari-bulan-dan bintang), walau sebenarnya penciptaan cahaya (cahaya Muhammad) ini lebih dulu dari pada penciptaan Alam Jabbarut Malaakut, yakni “Nur Muhammad”.
Al-haq adalah “cahaya langit dan bumi”. Demikian penegasan Al-Qur’an
yang kemudian dimensi kosmogonis dan kosmologisnya diperkuat oleh Rasul
Saw. Dengan sabdanya :
Yang menjadi awal dari tajallinya (tanpak) alam dan menjadi awal mulanya kehidupan serta menjadi RATU nya RUH dan di sebut dg RUH idlofi
Yang pertama kali diciptakan oleh Alloh adalah cahaya / Nur muhammad.
Yang menjadi awal dari tajallinya (tanpak) alam dan menjadi awal mulanya kehidupan serta menjadi RATU nya RUH dan di sebut dg RUH idlofi
“Cahaya bagaikan kutub-kutub spiritual yang menyala, laksana norma dan
teladan-teladan yang hidup dan menjadi perhatian para pencari kebenaran
dimana dan kapanpun yang sekaligus merupakan realitas surgawi dibalik
bentuk keduniawian”.
“Hakikat Bismillah adalah gema panggilan Al-haq kepada manusia untuk kembali ke sumber spiritualnya“ .
Sebenarnya seluruh manifestasi berasal dari ketujuh huruf ini (Ba Sin
Mim Alif Lam Lam Ha), karena bagaimana mungkin Yang “Esa” melambangkan
sesuatu yang lain dari huruf-huruf yang akan mengakui keEsaan-Nya,
apalagi penggabungan dari ketujuh huruf-huruf ini jika berbentuk huruf
Arab yang memanjang dari kanan ke kiri, akan merupakan lambang
penerimaan prinsip material dan pasif, dalam arti kata “ketaqwaan
mutlak” serta dimensi keindahan yang menyempurnakan ke-Agungan diri-Nya,
dan sekaligus melambangkan pusat teragung yang dari-Nya segala sesuatu
itu berasal dan kemana segala sesuatu itu kembali.
“Manusia harus percaya kepada yang suci dan terlibat didalamnya, kalau
tidak, maka Yang Suci akan menyembunyikan dirinya dibelakang selubung
yang tidak dapat diraba dan dilalui, yang pada hakikatnya adalah,
selubung jiwa rendah manusia “.
Kesucian “Bismillah” mampu menciptakan sesuatu yang bersifat spiritual
sekaligus sensual, menyingkap keindahan dunia ini beserta sifat fananya,
dan menjelma dalam bentuk alam transendental yang indah melalui teofani
Tuhan, karena hakikat Bismillah masih suci dan dicari oleh sebagian
masyarakat Islam, dan menjadi nilai universal bagi seluruh dunia pada
saat kebodohan mengancam untuk mencekik “spirit Bismillah” itu sendiri.
Nama “Allah” adalah kunci khazanah misteri Tuhan dan pintu gerbang
menuju Yang Gaib dan Yang Nyata. Itulah realitas yang berdasarkan
identitas esensial Tuhan dan kesucian nama-Nya. Itulah alasan mengapa
para Ahlul Hukama selalu merenungi dan menyebutkan bahwa :
“Huruf-huruf didalam “Bismillah” turun dari dunia spiritual ke dunia fisikal dan memiliki substansi spiritual batin ketika mengenakan selubung dunia gaib yang mampu menembus kedalam makna batinnya, dan dapat merenungkan simbol prinsip-prinsip realitas maupun pedoman yang terwujud”.
“Huruf-huruf didalam “Bismillah” turun dari dunia spiritual ke dunia fisikal dan memiliki substansi spiritual batin ketika mengenakan selubung dunia gaib yang mampu menembus kedalam makna batinnya, dan dapat merenungkan simbol prinsip-prinsip realitas maupun pedoman yang terwujud”.
“Al’Qur’an bagaikan sepercik cahaya yang menyinari kegelapan eksistensi manusia di dunia ini”.
Misteri Zat yang menyatakan identitas, yang sekaligus merupakan sifat
Tuhan yang mutlak dan juga transendensi, mencakup seluruh aspek
ketuhanan yang mungkin termasuk dunia dengan pembiasan pembiasan
dari-Nya yang mengindividualisasi tak terkira banyaknya. Maka dari itu
orang yang mencintai Tuhan akan selalu “mengosongkan hatinya dari segala
sesuatu selain-Nya” (ini terapi yang sangat ampuh untuk mencapai puncak
kekhusyuan didalam shalat); karena “ Alif Lam Lam Ha” akan menyerbu
hatinya dan tidak menyisakan ruang sedikitpun untuk sesuatu yang lain,
karena seseorang hanya perlu mengetahui dan menyelami hakikat
“Bismillah” ini untuk mengetahui semua yang dapat diketahui.
Hal ini pernah disinggung dalam salah satu Hadits Rasul Saw,
Karena didalam makan dan minumnya manusia, Iblis akan turut andil didalamnya, jika tidak diawali dengan ucapan “Bismillah”.
“Barang siapa yang melakukan sesuatu pekerjaan dengan tanpa diawali “Bismillah”, maka tidak akan ada keberkahan didalam pekerjaannya itu”.
Karena didalam makan dan minumnya manusia, Iblis akan turut andil didalamnya, jika tidak diawali dengan ucapan “Bismillah”.
Sedangkan mengenai huruf “Ha” (Ha, marbutoh), yang melambangkan realitas
lingkaran kosmos sebagai wahyu primordial Tuhan yang merupakan hasil
dari pengejawantahan keEsaan pada bidang keanekaragaman. Keempat buah
huruf suci ini merefleksikan kandungan prinsip keEsaan ilahi,
kebergantungan seluruh keanekaragaman kepada Yang Esa, kesementaraan
dunia dan kualitas-kualitas positif dari eksistensi kosmos atau makhluk,
sebagaimana difirmankan oleh Allah Swt didalam Al-Qur’an:
“Yaa Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia”
Keempat huruf ini jika digabungkan menjadi kalimat “Allah”. Itulah
alasan mengapa “Alif” menjadi sumber abjad dan huruf pertama dari nama
“Tuhan Yang Maha Kekal” ini, Allah, yang bentuk visualnya benar-benar
menyampaikan seluruh doktrin metafisik Islam mengenai alam realitas.
Karena dalam bentuk tulisan dari nama “Allah” dalam bahasa Arab, kita
melihat dengan jelas suatu garis horizontal, yakni gerak penulisannya,
kemudian garis tegak lurus dari “Alif” dan “Lam” semacam garis
melingkar, yang secara simbolis dapat disamakan dengan suatu lingkaran
“Tauhid” yang mengelilingi jiwa orang Islam, “dan sekaligus merupakan
suatu teofani dan refleksi dari ketakterbatasan kekayaan khazanah Tuhan
yang tercipta setiap saat tanpa pernah kehabisan
kemungkinan-kemungkinannya”. Hal ini pula yang menegaskan peran kitab
suci Al-Qur’an sebagai petunjuk (Al-Huda), jalan menuju Al-Haq.
Kesucian “Bismillah” membantu manusia untuk menembus selubung eksistensi
material sehingga memperoleh jalan masuk ke “Barakah” yang terletak
didalam firman illahi dan untuk mengenyam suatu “rasa”, bahwa setiap
jiwa akan mengenyam sesuai dengan kapasitas, keterbatasan, dan
keabadiannya.***
Huruf “Alif” didalam kalimat “Bismillah” dengan vertikalitasnya
melambangkan kekuatan Tuhan dan prinsip transenden yang darinya segala
sesuatu itu berasal, sedangkan dua huruf “Lam” dalam bentuk kail (mata
kail), yang melambangkan suatu peringatan agar hamba Allah berhati-hati
dalam pancingan Iblis atau setan dan sekaligus merupakan pengejawantahan
yang dapat dilihat dari firman ilahi, untuk membantu kaum muslim
menembus kedalam dan ditembusi oleh kehadiran ilahi yang sesuai dengan
kapasitas spiritual setiap orang Islam.
Bagi mereka yang mengikuti jalan menuju “haqiqah”, kalimat suci ini
merupakan pembantu pertama yang sangat diutamakan untuk merenungkan
ke-Esaan Ilahi Rabbi, karena huruf “Ba” yang dilambangkan oleh titik
pengenal kesucian horizontal “Sin” dengan wujud lengkungan vertikal yang
menghadap langit dan “Mim” yang berporos pada suatu tiang kepasrahan.
Tiga huruf-huruf suci ini secara keseluruhan melambangkan eksistensi
universal untuk menuntun manusia dalam pembauran kualitas, kekuatan, dan
aliran berbagai elemen agar setiap muslim mengingatkan ajaran Tuhan,
yaitu dalam bentuk alam semesta, yang benar-benar muslim atau tunduk
kepada kehendak Al-haq dengan mematuhi sifat dan hukum alamnya
sendiri-sendiri.
Kalimat suci “Bismillah” yang terucap saat berdzikir, berarti sang
pendzikir telah kembali kepusat alam, bukan secara eksternal melainkan
melalui hubungan batin yang menghubungkan dirinya dengan prinsip-prinsip
dan irama-irama alam primordial yang sakral dan teramat luas sekaligus
merupakan suatu perumpamaan dialog suci antara seorang Hamba dengan
Khaliqnya, yang menenangkan dan sekaligus mensucikan jiwanya, begitupun
“Bismillah” yang terucap disaat manusia hendak melakukan suatu
pekerjaan-pekerjaan yang halal, maka kesadaran dirinya akan terbangkit
dari keterlenaan, dalam dirinya melalui kesadaran akan realitas Yang
Maha Esa.
“Sebuah kesadaran yang sesungguhnya merupakan substansi dari manusia primordial dan sebab terbentuknya eksistensi manusia “.
Hati serta jiwa seluruh muslim disegarkan oleh “keagungan, keselarasan
dan kesucian” kalimat “Bismillah” dalam pada bentuk-bentuk huruf
Al-Hijaiyyah yang terdiri dari tujuh huruf (Ba Sin Mim Alif Lam Lam Ha),
yang mengelilingi kaum muslim yang hidup didalam masyarakat Islam
tradisional dan yang mengungkapkan keindahannya pada setiap
lembaran-lembaran suci Al-Qur’an. Oleh karenanya “Bismillah” sebagai
induk suci Islam yang merupakan karunia dari “Haqiqah” yang terletak
dalam hati wahyu Islam.
Kalimat suci ini akan tetap demikian bagi seluruh muslim, tak peduli
apakah diri mereka sadar akan haqiqah ataukah mereka yang sudah puas
dengan bentuk-bentuk luarnya saja (kalimat Bismillah yang tersurat).
Kesadaran ini diperkuat dengan tata cara “shalat” yang secara naluriah
mengembalikan manusia pada keadaan haqiqat kesadaran-NYA dengan menjadikan
seluruh alam sebagai tempat ibadah. Begitu pula halnya kalimat
“Bismillah” yang terucap saat bersujud menyentuh bumi (shalat), adalah : untuk mengembalikan manusia ke-kesucian pada kemurnian (al-fithrah)
saat Yang Maha Esa menghadirkan DIRINYA secara langsung didalam diri
manusia dan menjadi mutajalliyah-NYA Al-haq “mengumandangkan sebuah
simfoni abadi dalam keselarasan yang ada pada alam yang suci”.سبح يسبح
علي نفسه mensucikan DIRI-NYA sendiri dengan kesucianNYA bukan untuk
makhluk ..


0 Response to " Awal Penciptaan Bismillah (Bag.1)"
Post a Comment