Invasi Kerajaan Mongol Dalam Sejarah Islam
June 02, 2018
Add Comment
Dalam khazanah sejarah dunia,
tercatat bahwasanya bangsa Mongol mulai muncul pada akhir abad ke-12
atau awal abad ke-13 M. Pada mulanya, orang-orang Mongol adalah
sekumpulan masyarakat nomad yang mendiami daerah hutan Siberia dan
Mongolia luar. Mereka menempati daerah antara gurun pasir Gobi dan danau
Baikal. Mereka hidup sebagai pengembara dan tinggal di perkemahan.
Kehidupan orang-orang Mongol dikenal
dengan kehidupan bar-bar; mereka tidak mengenal kebersihan dan memakan
semua daging binatang. Mereka menyembah matahari di saat terbit dan ada
pula yang menganut cabang Nestoria dan Sammaniah yang mempertahankan
kepercayaan kuno terhadap kesucian berbagai peristiwa dan benda alam.
Sungai, mata air, Guntur , api, dll mereka anggap sebagai ruh-ruh suci,
sementara kekuatan teritngginya adalah Langit Biru atau Khokh Tenger. Di
sisi lain orang-orang Mongol juga dikenal pemberani, sabar, dan kuat
menahan rasa sakit ketika diintimidasi oleh musuh.
Sama seperti orang-orang Arab, Mongol pun menganut paham tribalisme
(kesukuan) yang kental. Mereka sangat patuh dan menjunjung tinggi kepala
suku mereka.
Para sejarawan Arab sering menyebut mereka dengan orang-orang Tartar,
memang demikianlah, orang-orang Mongol ini memang satu anak rumpun
dengan bangsa Tartar.
JENGHIS KHAN
Jenghis Khan adalah tokoh sentral
dalam sepak terjang perjalanan sejarah bangsa Mongol. Berkat
kepemimpinannya bangsa Mongol yang awalnya hanyalah orang-orang sabana
yang tidak mengenal dan dikenal oleh peradaban luar, kemudian menjadi
bangsa penakluk yang disiplin dan memiliki keterampilan perang yang
sangat diperhitungkan.
Ia lahir pada tahun 1162 M di wilayah Daeliyun Buldagha, Mongolia. Ia
merupakan anak dari seorang kepala suku yang bernama Ishujayi dan nama
kecilnya adalah Temujhin yang berarti besi atau baja yang kuat.
Kehidupan Temujhin cukup keras dan hal ini tentu saja berpengaruh dalam
pembentukan karakter dan kepribadiannya. Saat berumur 13 tahun, terjadi
perselisihan dan perpecahan di dalam suku Kiyat, keluarga Temujhin pun
menjadi tawanan perang. Dari sinilah kemudian dia bangkit dan menjadi
seseorang yang memiliki karakter yang keras dan kuat.
Ia menggantikan ayahnya sebagai kepala suku saat berusia 13 tahun. Awal
kepemimpinannya dimulai dengan tantangan berat, yakni mempersatukan
suku-suku Mongol yang terpecah-pecah. Setelah orang-orang Mongol
bersatu, ia berhasil memimpin rakyatnya menaklukkan beberapa daerah di
sekitar wilayah China.
Pada tahun 1211 M, Jenghis Khan dan
pasukannya yang berjumlah 100.000 prajurit yang ia bagi menjadi 10
kelompok, berangkat menuju China untuk menaklukkan daerah tersebut.
Mereka membuka kemenangan dengan berhasil menaklukkan wilayah Xi Xia.
Kemudian ekspansi dilanjutkan menuju Beijing yang diperintah oleh
Dinasti Jin pada tahun 1214 M. Mereka mengepung Beijing yang memiliki
tembok pertahanan terkokoh di masa itu. Dengan pengepungan yang semakin
ketat dan menyulitkan, akhirnya Kaisar Jin menyerah dan bersedia menjadi
negara koloni Mongol di bawah kepemimpinan Jenghis Khan. Kaisar Jin
menyerahkan seorang puteri untuk diperistri Jenghis Khan, 500 bocah
laki-laki dan perempuan, 3000 kuda, dan 10.000 gulungan sutra.
Yang menjadi perhatian dari penaklukkan Jenghis Khan bukan hanya
kekejamannya dalam berperang, yang memanfaatkan para tawanan sebagai
tameng pelindung di saat menyerang, tapi juga bagaimana ia menaklukkan
dengan menebarkan sebuah teror yang sangat menakutkan. Apabila sebuah
negeri menyerah, maka ia akan meminta upeti dan negeri tersebut harus
bersedia menjadi wilayah koloni yang harus menaati perintah-perintahnya.
Namun apabila sebuah negeri ditaklukkan dengan cara berperang, maka ia
akan membantai semua orang yang ada di dalam negeri tersebut meskipun
mereka adalah warga sipil bahkan wanita dan anak-anak. Sebagai contoh
adalah penyerangan terhadap wilayah-wilayah Khawarezm, lebih dari 2,5
juta jiwa dibantai oleh pasukan-pasukannya.
EKSPANSI KE KERAJAAN ISLAM
Kisah ekspansi bangsa Mongol ke kerajaan-kerajaan Islam adalah sebuah
kisah pilu yang begitu mengerikan. Salah seorang sejarawan ketika hendak
mengisahkan ekspansi Mongol ke wilayah Islam, ia mengatakan, belum
pernah ada sebelumnya sebuah budaya yang menggunakan kekuatan untuk
membinasakan seperti bangsa Mongol, dan belum pernah sebelumnya sebuah
budaya menderita sebagaimana yang tak lama lagi akan diderita
dunia muslim.
Sebelumnya kabar tentang jatuhnya Beijing ke tangan Mongol sempat
terdengar oleh seorang duta dari Khawarezm. Ia pun merasakan keheranan
yang sangat, bagaimana bisa kota yang sangat hebat dan terlindungi
dengan sangat baik telah jatuh ke tangan kaum yang semata-mata adalah
pengembara. Ia mengabarkan bahwa tulang-belulang orang-orang yang
dibantai telah membentuk gunungan-gunungan dan tanahnya berminyak karena
lemak-lemak dari jasad-jasad tersebut. Ia bahkan membenarkan sebuah
cerita gila yang mengatakan bahwa 60.000 gadis menjatuhkan diri dari
atas tembok demi menghindarkan diri jatuh ke tangan orang-orang Mongol.
Dan sebentar lagi bangsa Mongol akan masuk ke wilayah Islam dan
menorehkan kengerian yang lebih dari apa yang terjadi sebelumnya.
Ada beberapa alasan yang ditengarai menjadi latar belakang Jenghis Khan
mengekspansi negeri-negeri Islam. Pertama, alasan yang terpenting
melebihi segalanya adalah penaklukkan tersebut merupakan takdir yang
dibebankan oleh langit kepada dirinya tanpa disertai alasan yang jelas.
Sementara penghancuran adalah hanya masalah strategi dan pembantaian
adalah ekses dari peperangan.
Kedua, masalah ideologi. Orang-orang Mongol termasuk Jenghis Khan
adalah penganut ajaran Shammaniah yang mempertahankan kepercaaan kuno
terhadap kesucian berbagai peristiwa dan benda alam, diantaranya: air,
api, hujan, dan petir. Sementara umat Islam menggunakan benda-benda suci
tersebut, dalam hal ini air, sebagai perantara dalam ritual ibadah dan
Islam pun memerangi keyakinan paganisme dan animism yang masih
dipercayai oleh orang-orang Mongol. Hal ini turut memotivasi bangsa
Mongol memerangi Islam.
Ketiga, penyeragannya dilatarbelakangi keinginan untuk membalas dendam.
Menurut sejarawan Barat, Jenghis Khan pernah mengutus delegasi dagangnya
ke kerajaan Khawarezm, lalu Shah Muhammad sebagai penguasa Khawarezm
menilai delegasi tersebut sebagai mata-mata dan membunuh mereka semua.
Shah Muhammad khawatir tentang sifat bar-bar dan kekejaman orang-orang
Mongol seperti kabar yang ia terima melalui dutanya sebagaimana yang
telah kami sampaikan.
Sementara menurut sumber lainnya perselisihan tersebut terjadi karena
orang-orang Mongol yang masih liar dan biadab belum pernah mengenal
dunia luar kecuali di era Jenghis Khan, merampok dan menyiksa tiga
pedagang kain muslim dari Bukhara (1212 M). Lalu orang-orang Mongol
tersebut tertarik untuk mendapatkan harta yang lebih banyak lagi, mereka
pun mengutus 150 orang dari kalangan mereka ke wilayah teritorial
muslim. Mengetahui kedatangan orang-orang Mongol ini, Gubernur Ghayar
Khan menagkap dan meng-qishahs mereka semua, namun satu orang berhasil
meloloskan diri dan mengabarkan peristiwa di Utrar ini hingga sampailah
kepada Jenghis Khan.
Tahun 1219 M, Jenghis Khan membawa 200.000 pasukannya bergerak ke Barat
melalui Transoxiana. Ia berhasil menduduki kota-kota yang makmur
seperti Bukhara dan Samar Khand dan membunuh semua penduduknya sebagai
pembalasan dendam. Kemudian mereka berangkat ke kota-kota lainnya hingga
korban tewas mencapai angka 2,5juta jiwa lebih. Inilah awal mula
penderitaan umat Islam disebabkan invansi orang-orang Mongol.
PERSIAPAN PENAKLUKKAN DAULAH ABBASIYAH
Pada tahun 1227, Jenghis Khan wafat, ia meninggalkan wilayah kekuasaan
yang sangat luas. Keturunan-keturunannya melanjutkan tugasnya sebagai
penguasa dan penakluk dunia. Pada generasi keempat, Mongol dipimpin oleh
Kaisar Munk Khan. Dalam menjalankan kekuasaannya, Munk Khan dibantu
oleh tiga orang saudaranya. Pertama, Ariq Buqan yang tinggal bersamanya
di ibu kota Mongol, Qora Qorum, membantunya mengatur pemerintahan pusat.
Yang kedua adalah Kubilai Khan, seorang raja masyhur yang sempat
menyerang tanah air nusatara. Ia memegang kekuasaan Mongol di
wilayah-wilayah Timur, seperti China dan Korea. Dan yang ketiga adalah
seorang raja kejam yang karakternya paling mirip dengan Jenghis Khan, ia
adalah Hulagu Khan. Hulagu menguasai daerah bekas-bekas kerajaan Persia
dan sekitarnya. Wilayah yang langsung berhadap-hadapan dengan
teritorial Dinasti Abbasiyah.
Setelah berhasil menaklukkan sebagian wilayah Eropa, Mongol melirik
kerajaan besar lainnya untuk mereka taklukkan, Daulah Abbasiyah. Hulagu
Khan sebagai perwakilan Mongol di Asia Barat pun bersiap-siap mewujudkan
cita-cita besar tersebut. Rencana penaklukkan Abbasiyah ia rintis pada
tahun 649 H, lima tahun sebelum mereka menginjakkan kaki di Baghdad.
Hulagu menyadari kekuatan yang dimiliki oleh kerajaan Islam ini cukup
besar, oleh karena itu persiapan eksapansi ini harus benar-benar matang.
Lima tahun sebelum kedatangannya menuju Irak, Hulagu memulai
persiapannya dengan memperbaiki jalur yang akan dilintasi pasukan Mongol
dari wilayah Cina hingga menuju Irak. Ia juga membangun
jembatan-jembatan besar di sungai-sungai antara China dan Baghdad untuk
mengangkut alat-alat berat sebagai materi peperangan.
Tidak hanya persiapan materi, Mongol juga memainkan politik yang
dinamis. Melalui raja agung mereka, Munk Khan, Mongol berhasil melobi
raja Armenia dan raja-raja Nasrani di wilayah Syam untuk bekerja sama
dengan Mongol menaklukkan Daulah Abbasiyah. Selain itu, mereka juga
merekrut orang-orang dalam Daulah Abbasiyah seabgai mata-mata, seperti
Muayyiduddin al-Qomi asy-Syi’i, ia adalah perdana menteri berideologi
Syiah yang sangat membenci Ahlussunnah, kemudian Badruddin Lu’lu’, amir
wilayah Mosul.
Setelah genap lima tahun, persiapan yang direncanakan oleh Hulagu pun
rampung. Jalan-jalan dari China menuju Irak telah siap dilalui oleh
tentara dan alat-alat berat yang akan mereka bawa. Lobi-lobi politik
dengan penguasa-penguasa daerah yang akan mereka lewati pun mencapai
kesepakatan, sehingga pasukan Mongol bisa lewat dengan aman dan tidak
perlu membuang energi ekstra untuk berperang.
Hulagu tahu persis keadaan Daulah Abbasiyah; kelemahan dan
potensi-potensi kekuatan yang bisa diandalkan Abbasiyah, keadaan
militernya, dari jumlah tentara hingga peralatan-peralatan militer,
sampai-sampai keadaan psikologi masyarakat Abbasiyah pun Hulagu
mengetahuinya. Hal ini tentu saja berkat bantuan Muayyiduddin al-Qomi
asy-Syi’i dan mata-matanya yang banyak tersebar di lingkungan Daulah
Abbasiyah. Di sisi lain, raja-raja Nasrani di daerah Armenia dan
Anthakiyah siap memberikan bantuan militer kepada Mongol.
Dengan demikian, Hulagu bisa memastikan bahwa tentara Abbasiyah tidak
akan mampu membela diri mereka sendiri apalagi menyelamatkan Daulah
Abbasiyah. Ia sangat yakin Baghdad dan Daulah Abbasiyah akan hancur di
tangannya dan pasukannya. Pasukan Mongol pun berangkat dari wilayah
Persia bagian Barat menuju Baghdad.
Hulagu membagi pasukannya ke dalam tiga kelompok: kelompok pertama
adalah para pembesar pasukan, terdiri dari panglima perang dan
pimpinan-pimpinan kabilah. Pimpinan kelompok ini adalah Hulagu Khan
sendiri. Kelompok ini akan mengepung Baghdad dari sisi Timur. Kelompok
kedua adalah pasukan sayap kiri yang dipimpin oleh jenderal perang
terbaik Hulagu Khan, yaitu Katbughan. Pasukan ini dikondisikan
sedemikian rupa sebagai pasukan siluman. Mereka akan bergerak menyelinap
sehingga tidak akan diketahui kedatangannya kecuali tinggal beberapa
kilometer dari Baghdad. Jarak Baghdad dengan tempat pemberangkatan
pasukan, Kota Hamdan, adalah 450 Km. Katbughan memimpin pasukannya untuk
mengepung Baghdad dari wilayah Timur Laut. Sementara kelompok terakhir
dipimpin oleh Baiju, pasukan ini tidak kalah menakutkannya dibandingkan
dengan dua pasukan sebelumnya. Pasukan inilah yang dikirim Mongol untuk
menaklukkan Eropa dan mereka akan menyerang Baghdad dari sisi Barat.
Awal Pengepungan
12 Muharam 656 H pasukan Mongol mengepung kota Baghdad. Diawali dengan
kedatangan pasukan Hulagu Khan di sisi Timur dan Katbughan di sebelah
Timur Laut. Baghdad pun tersentak, Khalifah Mu’tashim Billah
mengumpulkan pembesar-pembesarnya untuk membahas keadaan genting ini,
semua pembesar kerajaan berkumpul termasuk juga Muayyiduddin al-Qami.
Hasil dari pertemuan ini adalah jihad menghadapi pasukan besar Mongol.
Pasukan Islam dipimpin oleh panglima perang Aybak rahimahullah. Ia
memimpin para mujahid untuk berhadapan langsung dengan pasukan Hulagu
Khan dan Katbughan yang telah berkumpul. Sebelum berangkat, ia baru
mendengar ternyata ada pasukan Mongol dalam jumlah besar di bawah
pimpinan Baiju datang dari wilayah Eropa untuk mengepung sisi Barat Kota
Baghdad. Panglima Aybak memutuskan pasukan Bayju-lah yang harus
dihadapi pertama kali, karena apabila pasukan Bayju tidak dihadapi, maka
Baghdad akan jatuh dengan lebih mudah dan dipastikan sejumlah besar
umat Islam akan terbantai. Namun ternyata Panglima Aybak dan pasukannya
berhasil dikalahkan oleh pasukan Bayju.
Jatuhnya Baghdad
Melihat kekalahan yang dialami pasukan Aybak, Muayyiduddin al-Qami
menawarkan kepada Khalifah al-Mu’tashim agar mengadakan negosiasi dengan
Hulagu Khan. Khalifah pun menyepakati usul yang diajukan oleh al-Qami
dan memerintahkan al-Qami agar menemui Hulagu Khan. Al-Qami berangkat
bertemu Hulagu ditemani dengan seorang Nasrani yang juga membenci
Khalifah dan Daulah Abbasiyah, nama utusan tersebut adalah Makika.
Setelah tiba di hadapan Hulagu, penghiantan al-Qami semakin menjadi. Ia
menjalin kesepakatan yang berdampak sangat buruk kepada Daulah Abbasiyah
dan umat Islam secara umum. Hulagu menawarkan kedudukan kepada al-Qami
dan Makika apabila keduanya membantu Mongol dalam penaklukkan Daulah
Abbasiyah. Dengan cepat keduanya menerima tawaran Hulagu tersebut.
Seandainya Hulagu tidak menawarkan keududukan tersebut, keduanya sudah
cukup senang melihat Daulah Abbasiyah hancur apalagi ditambah
iming-iming kedudukan, tentu ini lebih membuat mereka bersemangat.
Setelah beberapa kali menghadap antara Hulagu dan al-Mu’tashim, al-Qami
menyampaikan pesan bahwasnaya Hulagu hendak mengadakan perjanjian dengan
poin-poin yang mengesankan kemenangan yang besar bagi Abbasiyah:
– Menghentikan peperangan antara kedua kerajaan dan diganti dengan hubungan bilateral yang saling menguntungkan.
– Menikahkan anak laki-laki Khalifah dengan putri Hulagu.
– Mu’tashim Billah tetap menjadi khalifah.
– Penduduk Baghdad tanpa terkecuali dijamin keamanannya.
Namun Hulagu mengajukan syarat untuk poin-poin perjanjian tersebut:
– Hendaknya Baghdad menghancurkan benteng Irak.
– Menimbun kembali parit-parit (untuk perang).
– Menyerahkan persenjataan.
– Baghdad menjadi koloni kerajaan Mongol.
Hulagu meyakinkan bahwa perssyaratan yang ia ajukan adalah untuk
mewujudkan keadilan, kemerdekaan, dan keamanan. Setelah kesepakatan ini
terwujud, Hulagu berjanji akan kembali ke wilayahnya meninggalkan
penduduk Irak, membiarkan mereka berhukum dengan undang-undang mereka
sendiri, dan mengatur negara sesuai kebijakan mereka sebelumnya.
Mu’tashim sangat meragukan janji Hulagu ini. Salah seorang penasihat
Khalifah mengatakan, ini adalah siasat Hulagu, seandainya Anda
menolaknya, pasti Hulagu akan membunuh Anda dan kalau Anda menerimanya
masih ada kemungkinan Anda akan selamat walaupun kecil. Mu’tashim pun
terus merenungi dan memikirkan langkah apa yang akan ia ambil sementara
Hulagu dan pasukannya sudah sangat ingin merampas kekayaan Baghdad dan
melihat keindahan kota tersbut dari dalam.
Benar saja, Hulagu tidak mau memberi Khalifah waktu yang panjang untuk
berpikir. Ia memaksa Khalifah agar berpikir cepat dengan melempari
benteng Baghdad dengan bola api. Panah-panah pun mulai masuk ke istana
Khalifah hingga membunuh salah seorang pembantunya di hadapannya.
Menurut Ibnu Katsir perlawanan yang dilakukan Baghdad hampir-hampir
tidak berpengaruh terhdap orang-orang Mongol.
Melihat keadaan semakin genting, Khalifah meminta nasihat kepada
Muayyiduddin al-Qami apa yang harus ia lakukan. Al-Qami menyarankan agar
Khalifah secara langsung menemui Hulagu. Dengan lemahnya, Khalifah pun
menuruti begitu saja saran dari al-Qami. Ia keluar dari Baghdad bersama
menteri-menteri dan pengawal-pengawalnya dalam keadaan rendah dan hina.
Setelah sampai di hadapan Hulagu, kepedihan demi kepedihan dihadapi
Khalifah; seluruh pengawalnya dibunuh, kemudian anaknya sulungnya, Ahmad
Abul Abbas dibunuh di hadapannya, lalu putranya yang lain, Abdurrahman
Abu al-Fadhail dan Mubarak Abu al-Manaqib juga dibunuh dihadapnnya,
tidak hanya itu saudari-saudari perempuannya pun ditawan. Kemudian
al-Qami memanggil ulama-ulama Ahlussunnah di Baghdad untuk dieksekusi.
Barulah mereka sadar bahwa al-Qami adalah musuh dalam selimut, namun
semua itu sudah sangat terlambat. Dan terakhir Khalifah al-Mu’tashim pun
dieksekusi, ia digulung di sebuah karpet, lalu diinjak-injak dengan
kuda hingga ia tewas. Setelah itu Baghdad dihancurkan dan jutaan nyawa
melayang, atap-atap mengucurkan darah manusia, mayat-mayat
bergelimpangan di jalanan kota. Demikianlah akhir dari kekuasaan Daulah
Abbasiyah yang telah berkuasa selama 508 tahun.
Sumber:
Jenghis Khan oleh Jhon ManIslam di Asia Tengah oleh Abdul KarimQishotu
at-Tatar min al-Bidayati ila ‘Ain Jalut oleh Raghib as-Sirjani
Featured image source: Wikipedia
Ditulis oleh Nurfitri Hadi, M.A. (Staf pengajar Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Sumber Artikel


0 Response to " Invasi Kerajaan Mongol Dalam Sejarah Islam"
Post a Comment