Kemenangan Nabi Musa dan Kebinasaan Firaun di Hari Asyura
November 15, 2018
Add Comment
Ketika warga Mesir semakin ekstrem dengan kekufuran mereka. Permusuhan dan pengingkaran mereka terhadap Rasulullah Musa ﷺ kian menyalakan hasrat guna membunuh dan menindas duta Allah dan orang-orang yang mengikutinya. Mereka mengekor raja mereka yang zhalim, Firaun. Saat itulah Allah tegakkan hujjah-Nya memusnahkan mereka semua. Mereka telah menonton tanda-tanda dan kejadian-kejadian yang di luar nalar. Kejadian yang terbit dari proses alamiahnya. Dan menciptakan akal terheran-heran. Tapi mereka masih tak inginkan berhenti, enggan memahami, dan tak mau berpulang pada Allah ﷻ.
Dengan dominasi dan kesewenang-wenangannya, Firaun sukses menekan rakyatnya guna mengingkari kebenaran yang diangkut Nabi Musa.
فَمَا آمَنَ لِمُوسَى إِلاَّ ذُرِّيَّةٌ مِّن قَوْمِهِ عَلَى خَوْفٍ مِّن فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَن يَفْتِنَهُمْ وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الأَرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ
“Maka tidak terdapat yang beriman untuk Musa, tetapi pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam suasana takut bahwa Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menganiaya mereka. Sesungguhnya Firaun itu melakukan sewenang-wenang di muka bumi. Dan bahwasannya dia tergolong orang-orang yang mendahului batas.” (QS:Yunus | Ayat: 83).
Puncaknya, Firaun mengklaim dirinya sebagai Tuhan yang berhak disembah. Ketika kezhaliman sudah memuncak, ketika itulah bantuan Allah datang. Nabi Musa mengoleksi para pengikutnya. Menasihati mereka, meneguhkan hati mereka, dan menyerahkan arahan untuk mereka.
وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ
Berkata Musa: “Hai kaumku, andai kamu beriman untuk Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, andai kamu benar-benar orang yang berserah diri”. (QS:Yunus | Ayat: 84).
Mereka membalas ucapan Nabi Musa dengan jawaban yang mendinginkan beliau.
فَقَالُواْ عَلَى اللّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Lalu mereka berkata: “Kepada Allahlah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah untuk kaum yang´zalim”. (QS:Yunus | Ayat: 85).
Nabi Musa menyuruh mereka supaya bertawakal untuk Allah semata. Meminta bantu dan bercita-cita kepada-Nya. Dan Allah ﷻ juga memberikan solusi untuk mereka semua. Kemudian Nabi Musa menyerahkan kabar gembira dari Allah untuk kaumnya,
وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
Dan Kami wahyukan untuk Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua sejumlah buah lokasi tinggal di Mesir untuk lokasi tinggal untuk kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu tersebut tempat shalat dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”. (QS:Yunus | Ayat: 87).
Allah ﷻ mewahyukan untuk Nabi Musa dan saudaranya, Harun –‘alaihimassalam- supaya ia dan kaumnya membina rumah yang bertolak belakang dari lokasi tinggal orang-orang Mesir secara umum. Alasannya, saat perintah guna pergi dari Mesir datang, mereka lebih gampang untuk memberi tahu satu dengan yang lainnya. Perhatikanlah! Selain bantuan Allah berupa mukjizat, Nabi Musa pun menempuh usaha-usaha nyata laksana ini.
Kemudian datanglah perintah Allah ﷻ,
وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
“dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu tersebut tempat shalat dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman.” (QS:Yunus | Ayat: 87).
Mujahid mengatakan, “Maknanya ialah ini adalah pertolongan Allah untuk mereka yang ditimpa bahaya, kesulitan, dan kesempitan dengan tidak sedikit shalat.
وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan bahwasannya yang demikian tersebut sungguh berat, kecuali untuk orang-orang yang khusyu´.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 45).
Dan Rasulullah andai dihinggapi masalah, beliau bersegera shalat. Shalat memiliki akibat besar terhadap kehidupan dunia dan akhirat (al-Bidayah wa an-Nihayah Juz: 2 Hal: 105).
Selama bertahun-tahun, Nabi Musa dan pengikutnya bersabar dan menghibur diri dengan keimanan untuk Allah dan tawakal. Mereka senantiasa membetulkan hubungan dengan Allah. meminta bantu pada-Nya dengan shalat-shalat mereka. Di sisi lain, Firaun dan semua pengikutnya semakin membangkang dan memusuhi kebenaran.
Nabi Musa senantiasa berdoa untuk Allah ﷻ,
وَقَالَ مُوسَى رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلأهُ زِينَةً وَأَمْوَالاً فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلاَ يُؤْمِنُواْ حَتَّى يَرَوُاْ الْعَذَابَ الأَلِيمَ
Musa berkata: “Ya Tuhan kami, bahwasannya Engkau sudah memberi untuk Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami — akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman sampai mereka menyaksikan siksaan yang pedih”. (QS:Yunus | Ayat: 88).
Ibnu Juraij mengatakan, “Firaun tetap hidup sekitar 40 tahun sesudah Nabi Musa menyampaikan doa ini.” (Tafsir al-Quran al-Azhim oleh Imam Ibnu Kastir). Lihatlah Nabi Musa, di samping bersabar terhadap kaumnya sendiri, alangkah sabarnya beliau menghadapi kekejaman Firaun, berdakwah kepadanya, dan berdoa untuk Allah. Tak heran Allah ﷻ mendudukkan beliau sebagai seorang ulul azhmi.
Allah ﷻ berfirman,
فَاسْتَقِيمَا وَلاَ تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ
“Sebab tersebut tetaplah anda berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali anda mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS:Yunus | Ayat: 89).
Allah memperbolehkan Nabi Musa dan semua pengikutnya untuk terbit dari Mesir mengarah ke Syam.
Mengetahui kepergian Musa, kemarahan Firaun semakin memuncak. Ia siapkan pasukannya guna mengerjar Nabi Musa dan pengikutnya. Kejadian ini diabadikan Allah ﷻ dalam Alquran.
وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ فَأَرْسَلَ فِرْعَوْنُ فِي الْمَدَائِنِ حَاشِرِينَ إِنَّ هَؤُلاَء لَشِرْذِمَةٌ قَلِيلُونَ وَإِنَّهُمْ لَنَا لَغَائِظُونَ وَإِنَّا لَجَمِيعٌ حَاذِرُونَ فَأَخْرَجْنَاهُم مِّن جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ وَكُنُوزٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ كَذَلِكَ وَأَوْرَثْنَاهَا بَنِي إِسْرَائِيلَ فَأَتْبَعُوهُم مُّشْرِقِينَ
“Dan Kami wahyukan (perintahkan) untuk Musa: “Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), sebab sesungguhnya anda sekalian bakal disusuli”. Kemudian Firaun mengantarkan orang yang mengoleksi (tentaranya) ke kota-kota. (Firaun berkata): “Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar kelompok kecil, dan bahwasannya mereka menciptakan hal-hal yang memunculkan amarah kita, dan bahwasannya kita benar-benar kelompok yang tidak jarang kali berjaga-jaga”. Maka Kami keluarkan Firaun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan status yang mulia, demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) untuk Bani Israil. Maka Firaun dan bala tentaranya bisa menyusuli mereka di masa-masa matahari terbit.” (QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 52-60).
Pada ketika Firaun dan pasukannya sukses menyusul Nabi Musa dan pengikutnya, pengekor Nabi Musa berkata,
إِنَّا لَمُدْرَكُونَ
“Sesungguhnya anda benar-benar bakal tersusul.” (QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 61).
Mereka menuliskan demikian sebab melihat di hadapan mereka jalan tertutup oleh lautan. Mereka mengadu untuk Nabi Musa. Kemudian beliau menjawab,
قَالَ كَلاَّ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
Musa menjawab: “Sekali-kali tidak bakal tersusul; bahwasannya Tuhanku besertaku, besok Dia bakal memberi tuntunan kepadaku”. (QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 62).
Nabi Musa menyampaikan kalimat powerful dengan arti yang jelas. Menunjukkan kedalaman ilmu dan kepercayaan terhadap rahmat Allah. Perkataan seorang leader yang menciptakan tenang rakyatnya di ketika menghadapi himpitan masalah. Keadaan saat tersebut benar-benar genting. Tidak terdapat jalan yang dapat dilewati. Tidak terdapat orang yang dapat dimintai tolong. Dan Firaun ialah kejam yang tak barangkali memberi maaf. Sementara masa-masa terus menciptakan jarak Firaun makin mendekat. Dalam suasana demikian, Nabi Musa tetap tenang dan yakin Allah bakal menolongnya. Sikap ini hendaknya anda teladani sebagai seorang muslim yang beriman untuk Allah ﷻ. Turunlah wahyu untuk Nabi Musa,
فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ
Lalu Kami wahyukan untuk Musa: “Pukullah lautan tersebut dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan tersebut dan tiap-tiap belahan ialah seperti gunung yang besar. (QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 63).
Melihat laut terbelah, Nabi Musa dan pengikutnya bersegera mengarungi jalan terpecah itu. Setelah melintasinya, dan pengikutnya yang sangat akhir melintas telah terbit dari laut, barulah barisan mula pasukan Firaun menginjak laut. Musa hendak segera memukul laut tersebut agari ai pulang ke keadaannya semula. Sehingga Firaun dan pasukannya tidak dapat lewat. Namun Allah ﷻ memerintahkan,
وَاتْرُكْ الْبَحْرَ رَهْوًا إِنَّهُمْ جُندٌ مُّغْرَقُونَ
“Dan biarkanlah laut tersebut tetap terbelah. Sesungguhnya mereka ialah tentara yang bakal ditenggelamkan.” (QS:Ad-Dukhaan | Ayat: 24).
Melihat tanda kehormatan Allah dan mukjizat Musa dengan terbelahnya laut, Firaun sadar itu ialah kekuasaan Allah ﷻ. Bukan sihirnya Musa. Akan namun ia membawa mati sifat sombongnya, dalam suasana demikian ia tetap mengatakan, “Lihatlah! Bagaimana laut menjadi surut, tunduk kepadaku. Aku akan menciduk dua orang hambaku (Musa dan Harun) yang sudah memberontak kepadaku”.
Firaun dan pasukannya bergegas masuk, mengarungi belahan laut yang akan memusnahkan mereka. ketika mereka seluruh telah masuk ke dalam laut, Allah ﷻ menyuruh Musa guna memukul laut dengan tongkatnya. Musa pun mengerjakan perintah Rabbnya. Laut yang terbelah tersebut kembali laksana semula. Allah ﷻ berfirman,
وَأَنجَيْنَا مُوسَى وَمَن مَّعَهُ أَجْمَعِينَ ثُمَّ أَغْرَقْنَا الآخَرِينَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ
“Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan kelompok yang beda itu. Sesungguhnya pada yang demikian tersebut benar-benar adalah suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi ialah kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 65-67).
Tidak terdapat seorang juga dari kalangan orang-orang beriman tenggelam. Dan tidak satu juga dari Firaun dan pengikutnya yang dapat selamat.
Setelah benar-benar sadar dan yakin akan terbenam Firaun mengatakan:
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لا إِلِهَ إِلاَّ الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَاْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami memungkinkan Bani Israil mengarungi laut, kemudian mereka dibuntuti oleh Firaun dan bala tentaranya, karena berkeinginan menyiksa dan menindas (mereka); sampai bila Firaun tersebut telah nyaris tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak terdapat Tuhan tetapi Tuhan yang diyakini oleh Bani Israil, dan saya tergolong orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.” (QS:Yunus | Ayat: 90).
Allah mencelanya dan memberi pelajaran untuk kita semua. Apakah saat nyawa di kerongkongan dan kebinasaan telah benar-benar tampak, baru seseorang bakal sadar?
آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
“Apakah kini (baru anda percaya), sebenarnya sesungguhnya anda telah durhaka semenjak dahulu, dan anda termasuk orang-orang yang melakukan kerusakan.” (QS:Yunus | Ayat: 91).
Allah telah memutuskan hukumnya. Dan memusnahkan orang-orang yang melakukan zhalim.
فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya anda dapat menjadi pelajaran untuk orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya banyak sekali dari insan lengah dari tanda-tanda dominasi Kami.” (QS:Yunus | Ayat: 92).
Berlalulah kejadian itu. Namun pelajarannya tidak pernah hilang sepanjang zaman.
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ datang ke Madinah. Beliau dapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura (10 Muharam). Kemudian beliau ﷺ bertanya pada mereka,
« مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.
“Hari yang kalian bepuasa ini ialah hari apa?” Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Ini ialah hari yang paling mulia. Ini ialah hari di mana Allah mengamankan Musa dan kaumnya. Ketika tersebut pula Firaun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengekor beliau berpuasa pada hari ini”.
Rasulullah ﷺ kemudian berkata, ”Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengekor Musa daripada kalian.”. Lalu setelah tersebut Rasulullah ﷺ menyuruh kaum muslimin guna berpuasa.” (HR. Muslim no. 1130).
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

0 Response to "Kemenangan Nabi Musa dan Kebinasaan Firaun di Hari Asyura"
Post a Comment